Monday, June 15, 2009

CORETAN DI LAYAR MALAM

Aku membiarkan diriku melayang ke jurang emosi terdalam di dasar hati. Hanya untuk semalam cuma. Malam ini. Aku munculkan semua yang terendap, aku keluarkan semua pedih perih, aku lontarkan semua sedih, aku luahkan semua jerit rintih.

Aku biarkan satu demi satu berlegar berputar, bersilih ganti seperti rotasi filem, sedang aku memaksi diri di potong-potong memori, serpih-serpih kenangan, mengimbas luka-luka dari sebuah sejarah. Hikayat diri sendiri. Segala ceritera luka mengambil tempat di layar mata yang enggan lelap.

Kunyalakan lagi rokokku, yang entah bilangan keberapa untuk hari ini. Memaku diriku di kursi malas, memandang ke perbukitan dari jendela kamar. Kosong, gelap dan hampa. Malam celaka.

Keluh terus merengkuh di fikiranku. Perasaanku lepas entah kemana-mana lagi. Dia muncul lagi di bingkai-bingkai potret memori. Waktu menuju pagi. Jam-jam sial. Hatiku terpental, resah tak terpecahkan, tak terhindarkan.

Tahun 1998. Tanggal 17 Ramadhan. Seorang dia. Sebuah senyum yang tak pernah hilang. Gerimis hujan yang menimpa saat menghantar seorang teman pulang rumah di ujung malam, bersama luahan hampa tentang tragedi cinta zaman sekolahannya. Aku tertawa ngakak. Putaran lagu-lagu dari album Tiamat ‘A Deeper Kind of Slumber’. Hari-hari yang terbuai bersama malaikat berupa debu putih salju. Semua tawaku yang kemudian berubah menjadi duka. Menjadi ribut, petir dan bencana segala.

Semua ancaman dan hujatan yang memaksa aku menjadi sekental aspal. Semua cerca nista yang kukoleksi di hari berbagi kutukan. Sebelum aku memilih sunyi. Sebelum aku dipenjara diri sendiri.
2005 dan adikmu datang pagi-pagi.

“Red, Kak Ryanna mau bicara denganmu.”

............................................

Tiada bicara, hanya senyummu dan sebuah buku catatan kuterima saatku menjengukmu terlantar lesu. Untuk kemudian, kematian mengucupmu dan kulihat ruhmu melambaiku kali penghabisan. Kaku. Beku. Aku kelu. Kata-kata perpisahanku menjadi airmata. Segala puisi kutulis untukmu hanya menjadi talqin di hari pemakamanmu.

Aku terdampar lagi di keterasingan. Tanpa teman. Tanpa sesiapa. Tanpa kau juga. Semua kuendap erat-erat. Kututup rapat. Tetap kusimpan segala tutur bicaramu untukku. Tetap kulahap segala sunyi sepi. Seluruh malam tak bererti. Seluruh siangku mati. Duniaku tanpa warna-warni, tak berseri, di belenggu duri.

Dibaliknya, aku mengubat perih pedihku dalam sebuah rindu yang panjang. Aku rindu setiap sindir tajammu tentang ketergantunganku pada nikotina. Aku rindu setiap hasrat pembangkanganmu padaku. Aku rindu seluruh tutur bicara, dari seorang sahabat, saudara sekaligus musuh akrabku. Kau, yang hilang sebelum menyaksikan ku meraih semua harapan-harapanmu buatku.

“Red, jangan sedih pada kehilangan...” itu kalimatmu yang melekat kuat, tapi tak pernah kurenungkan.
Hari ini fikiranku berbeza. Di perbukitan, matahari mulai mengawali pagi, seperti saudara-saudara baruku yang bermunculan. Sebuah pembenaran dari sabda saudaraku yang hilang...

2 comments:

Yong Katana Ashica said...

jangan sedih pada kehilangan...
banyak kebenarannya...

DARWIS MERAH said...

aku bertemu banyak kebenaran.
semuanya menyedihkan...