Friday, July 10, 2009

Biar Aku Sendiri Mengerti

dalam ketidaksadaran ini
aku dibelantara
terpaku di depan
sebuah makam sepi sunyi
antara dua nisan usang
dengan pahatan patah kata tak jelas

kulafalkan -
Redha Fariq El-Darwis
Pangeran Darwis Pembidaah

ku menghitung namaku di
tiga ratus tiga puluh tiga tahun mendatang
ku dapatkan neraka bernyala
kutemukan syurga
gudang anggur abadi
yang semuanya tak kupunya
tak ku punya
tak ku peduli
tak kudamba

hakikat apa?
yang memaksaku menari
demi sebuah syurga
asma' apa yang buatku
tak bisa berpaling dari dosa
dosa
dosa

yang kita hitung
sejak langit terang
hingga temaram
lalu kelam
gelap mengkilap
pekat menjerat

sejak kegilaan ini tak bisa
dihitung apapun dalam
jalan pengklaim kebenaran
maka aku dan kau
adalah
sesat
sesat
sesat

dan terdengar riang-riang rimba
dalam alunan membentuk
sebuah lagu sayu dari kata;
taubat
taubat
taubat

maka seribu kali kuhunjam khanjar ini
di dada sendiri
demi jutaan perit pedih
kesedihanku
yang tak pernah kau lihat, Bunda..

Bunda, demi angkasa yang memutari ku telah
kubaptiskan nazar ini
aku bukanlah dari pemberi maaf
ini jati diriku pengabdi al-Mudzhill
aku menunjuki wilayah kesesatan
dalam gelak tawa ngakak
igauan dunia binatang

para pelaku hidup bayang-bayang dungu ini
pelakon wayang mayat
para bangkai penyembah budi sendiri

kuhapus seluruh keakuan ini,
aku menjelma,
sang rajawali,
sang merak,
sang serigala,
sang harimau,
sang singa dan
segala macam jelmaan para dewa,
raja buana,
penguasa lautan anggur..

hunjam lagi khanjar ini seribu kali di dadaku
demi ayahku
lihatlah! aku terbang
aku bebas merdeka
dalam kesaksian ku
Tuhan satu!

dan aku beroleh cinta,
dari kerling mata ayu di balik kerudung.

dan temanku bilang, "Kau gila!"

0 comments: