Monday, August 10, 2009

Titel Tidak Bererti!

Apa ada padaku
Tangan kosong terbuka
Penuh hampa
Ulas bibir tanpa bicara
Lidah kelu tanpa lagu
Wajah pucat memudar
Bias-bias tirai al-mauth
Mati antara warna malam

Alam tak pernah
Bernyanyi lagi di antaraku,
Di setiap hadirku,
Yang menguncup kembang mawar,
Mengusir bulbul ke sarang,
Kudengar desir angin menderu
Dalam ketidakikhlasannya menyapa tubuhku,
Di jalanku,
Dinding-dinding tak terlihat,
Jejak-jejak menyesatkan,
Menuju jerjak-jerjak kurungan
Menyekatku
Menindasku
Menabur pengharapan
Janji-janji yang terbiar mati
Di saat maut memagut di hening senja
Di belukar warna merah semu
kusaksikan
sang Malaikat merintih melupai sujudnya
Menara jam yang bergenang darah
Dentang loceng malapetaka
Mendesak kuping yang ketuaan
Menghirup cerca nista
Dari pergantian waktu
Yang berakhir
Menjelma
Pupur-pupur debu;
sebuah hidup

Tidak berlangsungkah
Satu abad
Tanpa korban
Dan segala hal
berakhir dalam senyuman
Mataku terlalu penat menyaksikan
Ilusi-ilusi sihir
Mencipta kekuasaan
Mewaris perbudakan
Melestarikan pembodohan,
Mentradisikan penindasan,

Aku muak menonton di pentas
Penuh perulangan
Wayang-wayang kejahatan
Sejarah yang didaur ulang
Dalam dahaga ini yang kudapatkan
Adalah secangkir racun
Perit menyesakkan
Hari-hari yang tertuliskan
Pengkhianatan-pengkhianatan
Membuatku terbuang
Dalam rintihan di ujung malam
Tak pernah kutanyakan lagi Tuhan
Tak pernah ku mohon lagi
Kubiarkan segalanya terlerai
Ikatan-ikatan ini
Dalam pengertian
yang aku sendiri mengerti

apa ada padaku
mata merah kekosongan
air mata mengering
tubuh lesu tak bermaya
habis kikis
menyisa sekelumit asa
pandang layu
yang bertahan demi menjamah
sedikit caya dari esok hari

Hidup hanyalah ratap-ratap bisu,
di atas makam nasib,
yang dilitup pupur debu waktu,
kudirikan nisanku,
dari tulang-temulang sendiri
kukafani pedih pilu
namun esok ia menghadir kembali
meminta mulutnya diisi
di hadap pintuku

malam-malam
jam-jam peraduan
tanpa lena
episod-episod igau
terowong-terowong api
relung siksa dalam kolong dada
pasir-pasir panas
mencurah pelupuk
perit mengguris alis
meninggalkan ketakutan dalam gelap
namun jantung terus berdetak
nadi terus menyentak
keputusasaan bertamu lagi
ingatan-ingatan bunuh diri
walau sekali kutemukan
perutusan berkeduk harapan
mimpi adalah mimpi
tak terelakkan untuk merundukkan kepala
dalam tebasan pedang setan

apa bicara lagi tersedia untukku
tentang harap
permohonan-permohonan
hasrat-hasrat
doa-doa
aku berlepas dari masa depan
masa kini
dan masa lampau
namun setiap hariku adalah
tawanan tanpa tebusan
terbelenggu kesedihan ini
terperangkap di jerat hampa
apa lagi ratap tersisa
semua tiada bererti
tetaplah;

“Hari-hariku hidup adalah Asyura
Tanah-tanah kujejak adalah Karbala
Bulan-bulan kuhidup tetaplah Muharam…”

Lalu, usah bicara denganku
Temasya pesta malam lebaran
Di jalan ini
Tak pernah ada
Kemenangan yang dirayakan
Di daerah ini kita menyediakan diri
Dan tubuh ini untuk terbantai
Menunggu disapa luka-luka menganga

Di setiap perang
Setiap perang yang tak pernah kita menang
Setiap perang yang kita adalah pecundang
Setiap perang yang menuntut kita bertekuk lagi
Pada tanah yang selalu berbisik memohon
Jasadku jasadmu

Di jalan ini
Kutinggalkan
Kepercayaan-kepercayaan
Ajaran-ajaran
Menuju kosong
Dengan keinginan
Menuju ketidakmahuan
Menuju ketiadaan
Untuk menjadi segala sesuatu
Menuju keperkasaan,
asaku
dititik terendah
ku kuasai segala
menuju Mahakuasa leluasa
Tak ketemu lagi aku,
Maka,
Apa perlu soal?
Apa perlu jawab?
Genta berbunyi,
Biarkan…
Langit bernyanyi,
Biarkan…
Mentari dan rembulan,
saling jatuh cinta
Remang malam,
kelipan bintang-bintang,
Mabuk dalam dansa di tirai angkasa,
Berantakanlah sekalian,

Di puncak gunung
Aku dijemput mabuk
dan mabuk menjemputku
Dalam dahaga ini
anggur berkah pemberian Tuhan
Kupuji seribu tahun
Maka tuang lagi anggurku
Sebelum fajar tiba dan semua ini sirna
Sebelum fajar tiba dan kaum beriman mengheretku
Ke rumah pasung
Sebelum fajar tiba dan hukum memutuskan..
Sebelum apapun..
Tak ingin kupeduli
Selama anggur ada
Jam-jam tersisa adalah
lebih emas dari emas
Lebih nyawa dari nyawa
Tak kulepas mabuk ini
dalam keakraban kami berkasih
selama anggur dicipta untukku
maka aku abadi!!

Tiada luka
Tiada hampa
Apa diharap orang mabuk?
Hanya
Anggur
Anggur
Anggur!!!
Berkah Tuhan senantiasa datang
Hujan anggur dari langit
Di ujung malam
Merugilah manusia-manusia lena
Bahagia aku yang faqir pemabuk ini
Menari dalam anggur
Bernyanyi lagu mabuk
Tiada tersisa selain
Mabuk!
Mabuk!
Mabuk!
Menunggang pungguk
Menuju bulan
Mabuk!
Mabuk!
Mabuk!!!
Kerananya,
Apa lagi erti lebaran?
Apa erti kemenangan?
Aku mendapat lebih dari itu setiap waktu
Anggur langit menyapa bumi,
Kerananya..
Apa kufikir tentang nasib?
Apa kufikir tentang esok?
Dunia telah terbenam di piala anggurku
Di anggur mabukku yang menjejak syurga
Untuk apa kesia-siaan ini disembah-sembah?
Dipuja-puja?
Hidup ini impian sukacita
Memaksaku sembunyi
demi kemenangan ini yang kalian berambisi
merampasnya,
Persetan omonganmu!
Syurga kalianlah yang akan kujarah satu persatu!

Waktu halusinasi, waktu babi
Aku sedang
Gila,
Sasau
Nanar
Bosan
Benci
Muak
Geram
Sakit
Sekarat
Merana
Pedih
Perit
Hampa
Luka
Amarah
Hangus
Rentung
Lecur
Pedih
Perit
Terbakar
Terpasung
Terbantai
Berdarah
Parah
Pilu
Sayu
Sinting
Miring
Koma
Mati
Syirik
Khurafat
Bida’ah
Kafir
Murtad
Sesat
Semuanya…
Cerca
Cela
Nista
Binatang
Laknat!!!
Aku mabuk!
Maka tuang lagi anggurnya
Jangan biarkan kesadaran datang
Kerana kegilaan dunia membutakan dari kebenaran Tuhan
Biar aku terus Muslim dalam kemabukanku
Kewarasan di tengah-tengah dunia kalian adalah
Kekafiranku, kesesatanku..
Gila apa kutulis? Gila apa yang kau tulis?
Puisi apa kubaca?
Ah! Dunia.. pada kau terlalu lama memusuhiku
Terlalu lamakah aku memusuhimu?
Apa kau belum bosan dengan nistaku padamu?
Apa kau fikir aku berubah?
Ah! Teman..
Yang semalam menetakku saat lena
Luka masih membekas
Kenapa tidak menebas leherku
saat ku terjaga
Apa kau tak ingin memusuhiku dengan penghormatan?

Celakalah bait-bait puisi!
Ada apa dengan kata-kata si gila.
Celakalah kau yang membaca puisi seorang gila!
Pahala apa kau terima..
Celakalah para penyair sebelumku
Terkutuklah kalian kerana membuatku gila
Dan celakalah kegilaan ini
Kerananya aku tak mau melepaskan pena racun ini
Bukankah tidur yang menanti lebih enak
Ah! Kau syaitan yang memancing mataku
Tidakkah kau tahu aku menulis dalam kebutaan
Sialnya jam-jam ini
Yang memuncul segala jawab
Unggunan ini belum padam
Kafilah belum lewat
Kenapa aku harus ada di gurun ini?
Yang kutunggu hanya tiga kata pertama
Dari warkah awal purnama ini
Namun, bagaimana kutahu kau titipkan kiriman buatku?

Desir pasir
Ringkik-ringkik
Debu-debu gurun kering
Kaktus bisu
Kaldai tua
Hampa! Hampa! Hampa!
Kelopak mata terbakar
Menghapus ingat
Kenang-kenangan luput
Apa diingat tragedi zaman anak-anak
Cinta hanyalah harapan
Yang tidak lagi suci di pentas wayang bangkai
Segala rayu, kata-kata berangkai mawar
Adalah batasan keterasingan
Tak akan menyentuh waktu mabuk!!!
Di ujung raga
Semuanya menyisakan sampah-sampah
Kitab-kitab dan pena
Melebur tak tersisa
Terbang lagi aku yang bukan aku lagi
Dalam deru angin syahdu
Bayu bisu
Air mata berhamburan
Airmata mengering
Anggur benua mana paling enak?
Siram lagi taman mawar ini,
Apa ertinya berduka?
Anggur akan tumbuh lagi di tanah ini
Selama anggur ada
Pemabuk tak kenal duka!
O.. Lidah, bida’ah apa terucap,
Sungguh kesesatan ini kemestian buatku
Meski di mata kalian adalah ketergelinciran
Di qalbuku inilah pemahaman
Betapa kata-kata taubat itu menarikku lagi
Mengheret ke mihrabmu
Di masjid tanpa nama
Di tanah tak dikenal
Di subuh hening tanpa embun
Apa cukup bagiku mengorbankan lena ini untuk syurgaMu?
Pertanyaan-pertanyaan kaku
Kerananya tiada pernah kumohon..
Tiada pernah kumohon syurga!
Selama ada atau tiada
Apa bedanya?
Caya menyinar, apa perlu lagi kata
Kami terdampar di terowong asyik mahsyuk
Lena dan tersadar hanya di remang merah senja
hati terbakar api abadi
Mencari titik sadar
Di antara pasir tempatku terhampar
Fana! Fana merajalela menggila
Kehilangan akal dipermainmu
Nah! Lihat aku berdepan-depan
Pada betapa angkara murka ini
Menghempas memulas
Tiada putusan akhir
Demi menyerah pada takdir hidup
Semua titah perintah
Litupkan di jalanan ini
Bungkam semua suara
Aku mau
Sepi
Hening
Sunyi
Untuk seribu tahun lagi!

(19 Julai 2009 - di maqam Ryanna)

Friday, July 10, 2009

manifestasi sebuah hilang

hilang
hilang
hilang

hapus aku
namaku
keakuanku
tak bererti
lebur
dalam kibasan
sayap jentayu
sang rajawali
sang ababil
sang kelelawar

aku reguk
secangkir darah segar
tak hapus kehausan
maka
aku hapus
dalam jalan tanpa jalan

aku hinggap di gerbang
antara dua haram
ku lihat dalam dimensiku
mata bernyala
kulihat alam-alam
tak tertangkap mata
dua naga
menghambur api sifar warna
dua singa
merafak di kakiku
dalam perwujudanku sang harimau
kucakar tembok kedukaan
kuterjuni
gaung gelap tak bertepi
menuju alam hapus
mengingat hanya tiga
menjelmakan yang selain aku
yang bukan siapa-siapa
di alam
tanpa nama

Biar Aku Sendiri Mengerti

dalam ketidaksadaran ini
aku dibelantara
terpaku di depan
sebuah makam sepi sunyi
antara dua nisan usang
dengan pahatan patah kata tak jelas

kulafalkan -
Redha Fariq El-Darwis
Pangeran Darwis Pembidaah

ku menghitung namaku di
tiga ratus tiga puluh tiga tahun mendatang
ku dapatkan neraka bernyala
kutemukan syurga
gudang anggur abadi
yang semuanya tak kupunya
tak ku punya
tak ku peduli
tak kudamba

hakikat apa?
yang memaksaku menari
demi sebuah syurga
asma' apa yang buatku
tak bisa berpaling dari dosa
dosa
dosa

yang kita hitung
sejak langit terang
hingga temaram
lalu kelam
gelap mengkilap
pekat menjerat

sejak kegilaan ini tak bisa
dihitung apapun dalam
jalan pengklaim kebenaran
maka aku dan kau
adalah
sesat
sesat
sesat

dan terdengar riang-riang rimba
dalam alunan membentuk
sebuah lagu sayu dari kata;
taubat
taubat
taubat

maka seribu kali kuhunjam khanjar ini
di dada sendiri
demi jutaan perit pedih
kesedihanku
yang tak pernah kau lihat, Bunda..

Bunda, demi angkasa yang memutari ku telah
kubaptiskan nazar ini
aku bukanlah dari pemberi maaf
ini jati diriku pengabdi al-Mudzhill
aku menunjuki wilayah kesesatan
dalam gelak tawa ngakak
igauan dunia binatang

para pelaku hidup bayang-bayang dungu ini
pelakon wayang mayat
para bangkai penyembah budi sendiri

kuhapus seluruh keakuan ini,
aku menjelma,
sang rajawali,
sang merak,
sang serigala,
sang harimau,
sang singa dan
segala macam jelmaan para dewa,
raja buana,
penguasa lautan anggur..

hunjam lagi khanjar ini seribu kali di dadaku
demi ayahku
lihatlah! aku terbang
aku bebas merdeka
dalam kesaksian ku
Tuhan satu!

dan aku beroleh cinta,
dari kerling mata ayu di balik kerudung.

dan temanku bilang, "Kau gila!"

Monday, June 15, 2009

TULISAN SEORANG SAUDARA YANG PERGI…

seperti..
Muhammad dan Khadija,
Ali dan Fatima,
Husayn dan Shahrbanu,

aku juga ingin mencinta,
di kesendirianku,
seperti nasib Ma'shuma..

(dari buku catatan Ryanna, 2004)

CORETAN DI LAYAR MALAM

Aku membiarkan diriku melayang ke jurang emosi terdalam di dasar hati. Hanya untuk semalam cuma. Malam ini. Aku munculkan semua yang terendap, aku keluarkan semua pedih perih, aku lontarkan semua sedih, aku luahkan semua jerit rintih.

Aku biarkan satu demi satu berlegar berputar, bersilih ganti seperti rotasi filem, sedang aku memaksi diri di potong-potong memori, serpih-serpih kenangan, mengimbas luka-luka dari sebuah sejarah. Hikayat diri sendiri. Segala ceritera luka mengambil tempat di layar mata yang enggan lelap.

Kunyalakan lagi rokokku, yang entah bilangan keberapa untuk hari ini. Memaku diriku di kursi malas, memandang ke perbukitan dari jendela kamar. Kosong, gelap dan hampa. Malam celaka.

Keluh terus merengkuh di fikiranku. Perasaanku lepas entah kemana-mana lagi. Dia muncul lagi di bingkai-bingkai potret memori. Waktu menuju pagi. Jam-jam sial. Hatiku terpental, resah tak terpecahkan, tak terhindarkan.

Tahun 1998. Tanggal 17 Ramadhan. Seorang dia. Sebuah senyum yang tak pernah hilang. Gerimis hujan yang menimpa saat menghantar seorang teman pulang rumah di ujung malam, bersama luahan hampa tentang tragedi cinta zaman sekolahannya. Aku tertawa ngakak. Putaran lagu-lagu dari album Tiamat ‘A Deeper Kind of Slumber’. Hari-hari yang terbuai bersama malaikat berupa debu putih salju. Semua tawaku yang kemudian berubah menjadi duka. Menjadi ribut, petir dan bencana segala.

Semua ancaman dan hujatan yang memaksa aku menjadi sekental aspal. Semua cerca nista yang kukoleksi di hari berbagi kutukan. Sebelum aku memilih sunyi. Sebelum aku dipenjara diri sendiri.
2005 dan adikmu datang pagi-pagi.

“Red, Kak Ryanna mau bicara denganmu.”

............................................

Tiada bicara, hanya senyummu dan sebuah buku catatan kuterima saatku menjengukmu terlantar lesu. Untuk kemudian, kematian mengucupmu dan kulihat ruhmu melambaiku kali penghabisan. Kaku. Beku. Aku kelu. Kata-kata perpisahanku menjadi airmata. Segala puisi kutulis untukmu hanya menjadi talqin di hari pemakamanmu.

Aku terdampar lagi di keterasingan. Tanpa teman. Tanpa sesiapa. Tanpa kau juga. Semua kuendap erat-erat. Kututup rapat. Tetap kusimpan segala tutur bicaramu untukku. Tetap kulahap segala sunyi sepi. Seluruh malam tak bererti. Seluruh siangku mati. Duniaku tanpa warna-warni, tak berseri, di belenggu duri.

Dibaliknya, aku mengubat perih pedihku dalam sebuah rindu yang panjang. Aku rindu setiap sindir tajammu tentang ketergantunganku pada nikotina. Aku rindu setiap hasrat pembangkanganmu padaku. Aku rindu seluruh tutur bicara, dari seorang sahabat, saudara sekaligus musuh akrabku. Kau, yang hilang sebelum menyaksikan ku meraih semua harapan-harapanmu buatku.

“Red, jangan sedih pada kehilangan...” itu kalimatmu yang melekat kuat, tapi tak pernah kurenungkan.
Hari ini fikiranku berbeza. Di perbukitan, matahari mulai mengawali pagi, seperti saudara-saudara baruku yang bermunculan. Sebuah pembenaran dari sabda saudaraku yang hilang...