Thursday, November 20, 2008

sajak ini tidak berjudul v.1

Kan kusingkap selubung, yang menabiri rahsia dalam rahsia,
Kan kutuliskan sebuah kebenaran yang bukan pembenararan lapangan,
Yang bukan ceritera hikayat, atau kekosongan sebuah wasiat,
Kuhidangkan surah dari kalam fikiran tercerahkan,
Yang bukan fiksi ilusi dan fantasi,
Yang tidak berkepentingan seperti hadis tanpa perawi,
Atau sebaris ramalan buruk zionis bermimpi,

Hari ini, jam ini, dan saat ini,
Kan kusabdakan dalam darahnya mentari,
Dan keringat rembulan berlulabi,
Diantara siang dan malam, cerah dan kelam,
Bersepuh diantara tataran karma dan yin-yang,
Diantara nyala-nyala, mata-mata dan hati-hati yang angkat bicara,
Pada eksistensi cahaya di atas cahaya yang mengatas nirwana,
Melupakan ocehan pahala dosa, syurga dan neraka,

Meluluhlantaklah penguasa yang meletak bicara untuk menghitamputihkan dunia,
Yang memeras demi mengantungi kemewahan dan kuasa,
Semua menumpuk di sitcom televisi, yang membikin semua hal pada bisa menjadi pasti,
tanpa bangkangan sehingga kami berdiri mengambil posisi,
di medan insureksi, di balik ratusan slogan dan tudingan jari,
di hari kalian menciptakan ilusi di ujung hari,
dengan harapan senjakala bersaksi,
menciptakan fabel seorang Qarun berzakat dan Firaun berhaji,
dan Hitler hidup kembali menyalami Yahudi,
atau Bush dan Osama yang bersantai di toko Starbuck berbagi kopi,

Atas nama media ku sabdakan kehancuran,
yang meniupkan penyimpangan dan menyimpan kebijaksanaan,
bersalut kemasan visi pembodohan, penghakisan intelektual dan penyadaran,
Berlegar antara para penguasa dan tirani, layar televisi dan putaran pemain DVD,
yang seharian memikirkan untuk membuat kami tidak terlalu berfikir,
pada kebinasaan fakta dan distorsi sejarah yang rakus dijarah,
pada kebenaran yang terlindung di balik jendela bid’ah,
dan firman kitab suci yang berseberangan dengan hadis riwayat Abu Hurairah,
pabila perbedaan adalah alasan,
buat menempelkan sebuah label kesesatan,
dan penghakiman sepihak yang mengkultuskan kalimat,
antara pengertian laknat dan sesat,
rafidhah dan bid'aah,
di pukul rata antara Syiah dan Ibadiah,
Isyraqiah dan Mu’tazilah,
dan seperangkat pelabelan yang kalian samakan dengan Jahiliyyah,
saatnya mataku bernyala mencari arti di awal fitrah,
yang membawakanku titik azali mengabdi pada Wujudiah

Sirnakan aku pada ketiadaan, kurangi diriku pada kehilangan,
berpulang pada kekosongan, pada keheningan,
kembalikan asalku di kala senjakala berfirman,
bahawa fana ini menuju pembebasan.

Wednesday, November 19, 2008

tanpa tajuk (versi 1)


marak bunga api pengharapan
mekar dalam diam membakar
menggelora jiwa terbakar
bergejolak meronta menggelintar
antara sukacita harapan dan impian
bersatu cahaya mentari kebebasan
dan merah sebutir bintang pembangkangan
ke puncak tujuan
kita sama mendaki jajaran gunungan
bentangkan tangan dan meraih bulan

terbakarlah dalam kemenangan
mereguk anggur di belahan awan
dalam fana berdendangan
bait manual langitan dan lagu kemabukan
di antara bulan yang tersimpan
diam dan aman

kata seorang orang


Kata ini hanyalah
Rasa rasa
Seorang orang
Terlarut dalam
Kelam kelam
Yang
Hitam hitam
Di dalam dalam

Kata ini hanyalah
Nyanyi nyanyi
Unggas malam
Antara suram
Rembulan muharam

Kata ini hanyalah
Sendu sendu
Sayu syahdu
Pedih pilu
Lagu lagu
Rindu rindu

Kata ini hanyalah
Seru seru
Antara
Deru deru
Bayu bayu
Menembus waktu waktu
Menunggu kamu

Sebuah Penghormatan Untuk Chairil vol. 1



belantara prosa hitamku dicantas sebait puisi Chairil,
dan sialnya Chairil mati muda,
tambah celaka puisinya menusuk di relung kepala,
menyesak lekuk liku dada,
mencengkam mendekam,
pitam
membikin nanar, pijar, binar,
sasau, silau, lalau.

kesekian kali ketemu titik hampa,
kecewa dan dukacita,
meratap sebuah idea yang diperkosa,
angkara sebait puisi Chairil yang mati muda,
manusia apa dia?