Tuesday, February 24, 2009

hampa

ini hampa yang kau bilang-bilang semalaman kita gelandangan di jalanan,
masih terbawa hari ini,
atau besok dan buat bekalan di hari depan,
ini hampa yang kau bicara tiada beban batu digalas,
yang tak mampu kita bebas,
walau kita dibeban malas tak jelas,

ini hampa yang kau kekasihku tinggalkan,
seperti kata-kata perpisahan tak jelas,
lewat musim panas,
buat hatiku terhempas,
tanpa pernah ada belas,
hanya luka membekas..

ini hampa yang kubawa dalam keraguan tak jelas,
tak ketemu sandar tak ketemu alas,
semua tak bisa kulepas hingga akhir nafas..

abstrakku rabak

biarkan..

......

kosong

hampa

!!!

ah!

?

maaf Tuan Sutardji,

aku juga pengen coba...

(diinspirasi dari gaya puisi Sutardji Calzoum Bahri)

untukMu apa perlu ku fikir sebuah judul? Kau kan Maha Mengetahui segala sesuatu..

dalam fanaku
tenggelam di sembilan puluh sembilan
'asma-Mu
tak mampu ku berpaling pabila kau memaknaiku
penuh..
seluruh..

Tuesday, February 17, 2009

ada adalah tiada..

terkadang aku adalah Sihabuddin Yahya Suhrawardi,
yang dihukum mati sebagai pelaku bida'ah,
atas metafora wujud Tuhan dalam bentuk cahaya,
dari penafsiran surah Cahaya (An Nur).

terkadang aku adalah Mansur al Hallaj,
yang dihukum mati sebagai pelaku bida'ah,
kerna lafaz Ana al Haqq (Akulah Kebenaran),
dan mengajarkan metafora Iblis sebagai penyembah Tuhan sejati,

terkadang aku adalah Hafiz Shirazi,
faqih para pemabuk anggur Tuhan,
yang menganjurkan untuk menyucikan sajdah dengan anggur merah,

terkadang aku adalah Muhyidin Ibn Arabi, pelopor wahdah al wujud,

terkadang aku adalah Mahmud Shabistari,
yang mengatakan sekiranya Muslim itu benar-benar memahami Islam mereka adalah murni penyembah berhala,

terkadang aku adalah Zarathustra, sang nabi Persia,

terkadang aku adalah Muhammad Ibn Hassan al Askari, Al Mahdi Shahibuzzaman, Imam ke 12 yang ghaib di Samarra,

terkadang aku adalah Hassan Sabbah, pelopor al Hassashiyyin, penguasa Alamut,

terkadang aku adalah Hassan II (ala dhikri his salam) pewaris kota Alamut, yang memproklamasikan Qiyamat di 17 Ramadhan 559 dengan meminum anggur merah dan mengakhiri syariat agama di Alamut,

terkadang aku adalah Mushtaq Ali Shah, pemuzik gila dari Kerman, yang dihukum rejam sebagai pelaku bid'aah, kerana memainkan azan dengan sitarnya,

terkadang aku adalah Lal Shahbazz Qalandar, guru para darwis pencinta ganja dari Sindh,

terkadang aku adalah Siti Jenar, yang dihukum mati kerana bid'aah, yang saat kepalanya terpenggal dari tubuh, dia tertawa, dan jasadnya di kuburan menjadi kuntum melati, yang mengajarkan manunggaling kawula gusti,

terkadang aku adalah bait dari puisi Dandang Gula, yang mengatakan ; "... hanya keheningan bererti, dan keheningan berarti tidak menurut kitab suci."

Namun, Redza Darwis adalah ketiadaan. Dia ada kerana diadakan..

masih tidak mengenal judul..

sang surya telah mati.
tidak menyisakan cahaya antara tebaran langit kelam yang mengawangi.
seperti kilat yang mengawali isyarat kehilanganmu di ruang tak pasti,
yang melumat setiap radang di pelataran janji,
untuk setiap pasal dari kitab pemberontakan yang kita gubah di dinihari,
yang menutup labuhan malam menjadi lagu tanpa melodi,
di petang kita menanam hasrat di bibir secangkir kopi,
tanpa keluh kesah sejuta resah untuk kemungkinan sebuah cita dan cinta yang punah.

dan antara pagi yang memateri,
momen-momen bersilih ganti bersiri,
antara ribuan tagihan bertekuk pada aksi dan reaksi,
yang menyulut perihal perintah dan titah,
yang kita susupi ruangnya untuk membantah,
pada semua penindasan yang harus dilitup dengan tanah,
sehingga semua penghuni perempatan beroleh rumah,
dari sekedar mendengar omongan politisi pemilihan umum yang bermodal racun bid'aah dan fitnah,

di hari fajar mengintai semesta,
dan zadah korporasi mencipta berhala,
maka Lata, Uzza dan Manat, yang dihancur Muhammad,
di dunia pasca modernisasi menjadi Sony, MTV, Nike dan McD,
dan petikan Shahih Bukhari mengungguli iklan televisi, bersimpang siur antara pendekatan akidah dan konsumsi,

maka, mari beramal.. di setiap mall yang ghairah menumbal,
dengan kata beli, dengan uang semua bisa terjadi,
konsumsi segala sesuatu sebelum kiamat, tak temu tamat,
kerana pembenaran ini tidak ditemukan di zaman pasca Tiamat,
Beli! sebelum nisan terpahat, sebelum dikambus lahat,
semua akan cemerlang gemilang antara kuasa dan pangkat,
uang dan khianat, hasad dan laknat,
yang lebih ampas dari politisi yang melompat parti,
atau sederetan pembangkangan mual berbasa-basi,
semua jejadian yang menumbal kehidupan,
antara selokan dan belokan penuh rintangan,
menuntut aksi dan kepalan tangan,
untuk kerikil dan molotov cocktail dilempar di tengah medan.

maka, jangan pernah terhempas antara lingkungan berhala dan menara yang mengawali dunia berhawa korporasi dan globalisasi, jangan pernah menyedut udara berbaur deodoran cap neoliberalisasi, jangan biarkan janji berlepas pergi antara panji dan aksi, atau menghilang antara badai dalam secawan kopi, pulanglah dengan kenekatan dihari kita baptiskan,

kita telah terlanjur menebar racun angkara, maka kita habisi pertentangan ini hingga hari berkalang nyawa.