Monday, June 15, 2009

TULISAN SEORANG SAUDARA YANG PERGI…

seperti..
Muhammad dan Khadija,
Ali dan Fatima,
Husayn dan Shahrbanu,

aku juga ingin mencinta,
di kesendirianku,
seperti nasib Ma'shuma..

(dari buku catatan Ryanna, 2004)

CORETAN DI LAYAR MALAM

Aku membiarkan diriku melayang ke jurang emosi terdalam di dasar hati. Hanya untuk semalam cuma. Malam ini. Aku munculkan semua yang terendap, aku keluarkan semua pedih perih, aku lontarkan semua sedih, aku luahkan semua jerit rintih.

Aku biarkan satu demi satu berlegar berputar, bersilih ganti seperti rotasi filem, sedang aku memaksi diri di potong-potong memori, serpih-serpih kenangan, mengimbas luka-luka dari sebuah sejarah. Hikayat diri sendiri. Segala ceritera luka mengambil tempat di layar mata yang enggan lelap.

Kunyalakan lagi rokokku, yang entah bilangan keberapa untuk hari ini. Memaku diriku di kursi malas, memandang ke perbukitan dari jendela kamar. Kosong, gelap dan hampa. Malam celaka.

Keluh terus merengkuh di fikiranku. Perasaanku lepas entah kemana-mana lagi. Dia muncul lagi di bingkai-bingkai potret memori. Waktu menuju pagi. Jam-jam sial. Hatiku terpental, resah tak terpecahkan, tak terhindarkan.

Tahun 1998. Tanggal 17 Ramadhan. Seorang dia. Sebuah senyum yang tak pernah hilang. Gerimis hujan yang menimpa saat menghantar seorang teman pulang rumah di ujung malam, bersama luahan hampa tentang tragedi cinta zaman sekolahannya. Aku tertawa ngakak. Putaran lagu-lagu dari album Tiamat ‘A Deeper Kind of Slumber’. Hari-hari yang terbuai bersama malaikat berupa debu putih salju. Semua tawaku yang kemudian berubah menjadi duka. Menjadi ribut, petir dan bencana segala.

Semua ancaman dan hujatan yang memaksa aku menjadi sekental aspal. Semua cerca nista yang kukoleksi di hari berbagi kutukan. Sebelum aku memilih sunyi. Sebelum aku dipenjara diri sendiri.
2005 dan adikmu datang pagi-pagi.

“Red, Kak Ryanna mau bicara denganmu.”

............................................

Tiada bicara, hanya senyummu dan sebuah buku catatan kuterima saatku menjengukmu terlantar lesu. Untuk kemudian, kematian mengucupmu dan kulihat ruhmu melambaiku kali penghabisan. Kaku. Beku. Aku kelu. Kata-kata perpisahanku menjadi airmata. Segala puisi kutulis untukmu hanya menjadi talqin di hari pemakamanmu.

Aku terdampar lagi di keterasingan. Tanpa teman. Tanpa sesiapa. Tanpa kau juga. Semua kuendap erat-erat. Kututup rapat. Tetap kusimpan segala tutur bicaramu untukku. Tetap kulahap segala sunyi sepi. Seluruh malam tak bererti. Seluruh siangku mati. Duniaku tanpa warna-warni, tak berseri, di belenggu duri.

Dibaliknya, aku mengubat perih pedihku dalam sebuah rindu yang panjang. Aku rindu setiap sindir tajammu tentang ketergantunganku pada nikotina. Aku rindu setiap hasrat pembangkanganmu padaku. Aku rindu seluruh tutur bicara, dari seorang sahabat, saudara sekaligus musuh akrabku. Kau, yang hilang sebelum menyaksikan ku meraih semua harapan-harapanmu buatku.

“Red, jangan sedih pada kehilangan...” itu kalimatmu yang melekat kuat, tapi tak pernah kurenungkan.
Hari ini fikiranku berbeza. Di perbukitan, matahari mulai mengawali pagi, seperti saudara-saudara baruku yang bermunculan. Sebuah pembenaran dari sabda saudaraku yang hilang...

KUTERIMA TAKDIR SEBAGAI PEMBERONTAK!

dalam senandung
di balik kerudung
sebuah ceritera tak berujung
antara awanan mendung
dari gunung-gunung
dan menara agung
melintasi gedung-gedung
sayup-sayup bergaung
sabda yang dijunjung
hasrat yang terkurung
terbebas bagai beburung
tapi duka tak urung
luka tak terbendung
hari ini melaung
perlawanan teragung
derhaka tersanjung
amarah mengapung
biar terpasung
hingga rentung
tertusuk jantung
menyerah tiada untung
raga meniti ke hujung
akhir hidupku di tali gantung

AKARKAH..?

akar-akar
mencengkam kuat
bertaut erat
menyimpul hasrat
menyulam ikat

akar-akar
menyusur bumi
merunduk diri
mencari erti
menyelam hati

akar-akar
dalam selirat
membuka jerat
makna tersirat
bagai darah
di dalam urat

akar-akar mengakar
bagai akal ketemu pintar
sampai ke dasar
tak pernah sasar

akar-akar melitup hati
bagai makna cinta sejati

akar-akar tak kenal ingkar
demi melihat kembangnya mekar

bukan kerna menyusur akar
akan hilang bisanya ular

bukan dengan mendabik meninggi
akan mendapat sanjung dan puji

kalau bukan akar berbudi
masakan kembang mendapat puji

(untuk saudariku, Mia)

CINTA?

Aku menyaksikan
Cinta begitu indah
Ditabir matamu
Layaknya suram malam purnama
Cahaya redup memudar
Menyulam relung kalbu

Aku menyaksikan
Cinta begitu indah
Seperti air dingin
Mengalir bening
Menitis lembut di lubuk hati

Aku menyaksikan
Cinta begitu indah
Yang menganugerahiku
Sepasang sayap dari syurgaloka
Membawa ruhku, semangatku
Melayang hinggap ke nuranimu

Aku menyaksikan
Cinta begitu indah
Hingga,
Tak pernah mampu,
Ku akhiri ini puisi..

GIVE THE ANARCHIST A CIGARETTE..

Hari ini diketuk lagi radang-radang. Celaka terngiang-ngiang menerjang. Apa memang begini jadi bila kau hilang. Apa memang begini jadi bila hasrat terhalang. Aku bukan dia yang binatang jalang yang dari kumpulannya terbuang. Aku ini binatang disayang yang dari kumpulannya terbilang.

Kau pada memang buat aku menggelegak amarah, bergolak hasratku untuk membunuhmu. maka, sekarang, kau tentang aku berhadapan, jangan pernah tunduk, kalau kau memang pahlawan agung. tak peduli lagi aku siapa dirimu, aku telah lama siap menyambut segala takdir hidup atau mati...

tapi sebentar, kita lupakan perseteruan ini.. nyalakan dulu rokokmu buat kita berbagi..

SEBUAH KENANG-KENANGAN UNTUK RYANNA, SAUDARIKU YANG PERGI..

Sesekali suara guruh menyapa pekat malam. Kilat memancar kemilau menerang kelam. Hujan telah berhenti. Sisa-sisanya masih menitis di cucur atap. Aku terpaku di sudut kamar. Di antara helaian-helaian catatan tak pernah usai. Bertaburan senada dengan kecamuk kanvas lukisanku yang tak pernah langsai sejak 4 purnama lalu. Fikiranku ligat bersimpang siur tak ketahuan.

Aku tidak pasti, demi meringankan atau menambah bebananku, tanganku melayangkan belati tepat ke pantulan wajahku di cermin dinding. Pecah berderai. Puas. Kurenung dinding kamar yang kosong di kananku. Tempatku bingkaikan janji-janji sang kekasih 5 tahun lampau, janji-janji yang kemudian dia sayatkan satu persatu di hadapku bagai menyiat hatiku berkeping-keping. Untuk kemudiannya, dia hamburkan sobekan-sobekan itu satu persatu di hadapku. Sebagian sirna, sebagian terbakar hangus menjadi debu dan melarut di udara. Aku terpaku terus di sudut kamar. Menghitung pilu yang tak pernah hilang. Aku sendiri yang hilang tenggelam bersama pedih pilu.

Hilang dalam resah, hilang dalam gelisah, hilang dalam amarah, hilang dalam radang, hilang dalam segala sumpah kutukan. Mati rasa, mati hati. Mati segala mati. Seluruh ruang sepi. Sunyi.

Lelah. Otakku tak lagi bisa berfikir deras, apalagi berfikir waras. Gila, pecah kepala. Di waktu begini, semua hal adalah kekaburan tanpa makna. Aku jadi makhhluk penuh prasangka. Pada semua, pada dunia.

Aku tergeletak di ranjang. ISIS ‘In The Absence of Truth’ berputar terus. Jam-jam malam terus terlewatkan menuju pagi. Aku tak mampu memejamkan mata. Tanganku menggenggam kaca erat-erat. Aku akrab dengan kesakitan ini, darah merah mengalir di celahan jemari. Satu persatu bayangan merentas kotak fikir. Bergentayangan silih berganti.

Membawaku pada hirisan-hirisan memori tak terlupakan.

3 detik sebelum Ryanna kembali kepada Tuhan dan tersenyum padaku buat kali terakhir sebelum menutup mata.

Bait-bait lagu perlawanan yang kunyanyikan bersama teman-teman di jalanan sebelum kami dihujani asap dan asid.

Kuburan leluhurku yang sepi kali terakhir kuziarahi 10 tahun lalu.

Alir sungai di desa kelahiranku yang tercemar arus modernisasi.

Tanah-tanah moyangku yang tergadai digusur kaum pemodal.

Khanjar Persia pusaka warisan yang hauskan darah penguasa zalim.

Haram Ma’shuma yang bermunculan dari mimpiku menggamitku datang ke pintunya meraih berkah dari sebuah cinta.

Kitab Thawasin yang setia memenuhi hari-hariku demi memahami keberadaan diri.

Sunyi ruang suluk di zawiyah guru sufiku.

Tuturku yang selalu bermain dalam pemaknaan tersembunyi.

Keturunan abdi Habsyi terakhir menempel label kesesatan di dahiku.

Anjing kecil yang sering menunggu mendengar keluh kesahku di bangku taman.

Nyanyi pungguk melafaz rahsia suci.

Meromantiskan waktu-waktu bersama aroma kopi dan nikotin.

Puisi-puisiku yang selalu terpenggal dalam pengertian tak jelas.

Sahabat tercinta yang selalu ada.

Persalinan pemberian bapaku yang membuat egoku hapus menjadi debu berterbangan.

Restu ibu yang membebaskanku dari wacana syurga neraka.

Hujan turun kembali. ISIS terus berputar, aku hanyut dalam lena. Luka belum berbalut, kaca masih tertancap di genggaman.

Malam ini kulihat Ryanna tersenyum dalam mimpiku, seperti waktu-waktu dahulu.

Cermin

akukah itu.
dengan tanya, mengetuk pintuku.
tentang aku di dalam aku.
akukah itu,
dengan tanya, keberadaanku.
akukah itu.
atau dia.
siapa?
ah,
ini kali kita temu jawab di depan cermin.

UNTUK SEORANG LANGIT

mencari berkah dari sebuah Jumaat.
dalam solatku yang tak pernah sempurna.
hanya keluh dibibir,
nanar dalam kelaparan jiwa seorang qalandar.
ku asah khanjar ini buatmu khalifah agar kau selalu ingat pada kuburan.
bahwa semua ketidakadilan akan kucantas tanpa ragu.
atas nama sumpah setia semua sang fedayeen
pengabdi Syaikh al Jabal Sayyidna Hassan ibn Sabbah.
Atas nama pembebasan.

aku sambut kegembiraan tak bertepi.
saudaraku telah hadir di pintuku.
ayuh! tuangkan... takkan kusisa lagi anggur di rumahku.
ayuh! kita bagikan ini malam.
hingga cawan bumi yang terbentang dari masyrik hingga maghrib tak bisa lagi menampung kemabukan kita, biar gunungan ikut oleng dalam asyik makhsyuk ..
aku mabuk.. kau mabuk..
Darwis mabuk, Langit mabuk,
kita diam dan meninggi,
memeluk bulan di dalam sunyi.

apa perlu singkap tabirnya?
kalau kita adalah dia..

(untuk seorang saudara yang jauh, Hatalla Langit)

Catatan tepi 1

purnama malam 13,
pergunungan alamut,
kota kaum al assassin,
qalandar pencinta ganja,
baris terakhir dari rubaiyat umar khayyam,
pertanyaan terakhir ibu sebelum aku keluar rumah,
pesan guru sufiku yang terakhir.

tingkap kamarku yang separuh terbuka tadi malam.
kopi setengah gelas yang tidak dihabisi. lena diulit putaran lagu-lagu Davod Azad.
pesanan ringkas terakhir di mobil phone.

pertanyaan tentang dosa terakhir ku lakukan?
hujan lebat di tengah malam Sabtu bulan Oktober 2004.
jalanan kota kelahiran.
dinding bersih yang menggamit sebuah seni vandalis.
solat isya' di hujung malam dalam kemabukan anggur Tuhan hingga aku usai setelah solat 300 rakaat.

membuka mata dan sedar dari igau.. ini mimpi semalam.

sembunyi

di mana bisa temukan,
asal mula?

apa erti,
dari semula jadi?

mana awalmu?

katanya tak pernah punya rahsia...

teman apa kau ini,
dalam ketersembunyian.