hilang
hilang
hilang
hapus aku
namaku
keakuanku
tak bererti
lebur
dalam kibasan
sayap jentayu
sang rajawali
sang ababil
sang kelelawar
aku reguk
secangkir darah segar
tak hapus kehausan
maka
aku hapus
dalam jalan tanpa jalan
aku hinggap di gerbang
antara dua haram
ku lihat dalam dimensiku
mata bernyala
kulihat alam-alam
tak tertangkap mata
dua naga
menghambur api sifar warna
dua singa
merafak di kakiku
dalam perwujudanku sang harimau
kucakar tembok kedukaan
kuterjuni
gaung gelap tak bertepi
menuju alam hapus
mengingat hanya tiga
menjelmakan yang selain aku
yang bukan siapa-siapa
di alam
tanpa nama
Friday, July 10, 2009
Biar Aku Sendiri Mengerti
dalam ketidaksadaran ini
aku dibelantara
terpaku di depan
sebuah makam sepi sunyi
antara dua nisan usang
dengan pahatan patah kata tak jelas
kulafalkan -
Redha Fariq El-Darwis
Pangeran Darwis Pembidaah
ku menghitung namaku di
tiga ratus tiga puluh tiga tahun mendatang
ku dapatkan neraka bernyala
kutemukan syurga
gudang anggur abadi
yang semuanya tak kupunya
tak ku punya
tak ku peduli
tak kudamba
hakikat apa?
yang memaksaku menari
demi sebuah syurga
asma' apa yang buatku
tak bisa berpaling dari dosa
dosa
dosa
yang kita hitung
sejak langit terang
hingga temaram
lalu kelam
gelap mengkilap
pekat menjerat
sejak kegilaan ini tak bisa
dihitung apapun dalam
jalan pengklaim kebenaran
maka aku dan kau
adalah
sesat
sesat
sesat
dan terdengar riang-riang rimba
dalam alunan membentuk
sebuah lagu sayu dari kata;
taubat
taubat
taubat
maka seribu kali kuhunjam khanjar ini
di dada sendiri
demi jutaan perit pedih
kesedihanku
yang tak pernah kau lihat, Bunda..
Bunda, demi angkasa yang memutari ku telah
kubaptiskan nazar ini
aku bukanlah dari pemberi maaf
ini jati diriku pengabdi al-Mudzhill
aku menunjuki wilayah kesesatan
dalam gelak tawa ngakak
igauan dunia binatang
para pelaku hidup bayang-bayang dungu ini
pelakon wayang mayat
para bangkai penyembah budi sendiri
kuhapus seluruh keakuan ini,
aku menjelma,
sang rajawali,
sang merak,
sang serigala,
sang harimau,
sang singa dan
segala macam jelmaan para dewa,
raja buana,
penguasa lautan anggur..
hunjam lagi khanjar ini seribu kali di dadaku
demi ayahku
lihatlah! aku terbang
aku bebas merdeka
dalam kesaksian ku
Tuhan satu!
dan aku beroleh cinta,
dari kerling mata ayu di balik kerudung.
dan temanku bilang, "Kau gila!"
aku dibelantara
terpaku di depan
sebuah makam sepi sunyi
antara dua nisan usang
dengan pahatan patah kata tak jelas
kulafalkan -
Redha Fariq El-Darwis
Pangeran Darwis Pembidaah
ku menghitung namaku di
tiga ratus tiga puluh tiga tahun mendatang
ku dapatkan neraka bernyala
kutemukan syurga
gudang anggur abadi
yang semuanya tak kupunya
tak ku punya
tak ku peduli
tak kudamba
hakikat apa?
yang memaksaku menari
demi sebuah syurga
asma' apa yang buatku
tak bisa berpaling dari dosa
dosa
dosa
yang kita hitung
sejak langit terang
hingga temaram
lalu kelam
gelap mengkilap
pekat menjerat
sejak kegilaan ini tak bisa
dihitung apapun dalam
jalan pengklaim kebenaran
maka aku dan kau
adalah
sesat
sesat
sesat
dan terdengar riang-riang rimba
dalam alunan membentuk
sebuah lagu sayu dari kata;
taubat
taubat
taubat
maka seribu kali kuhunjam khanjar ini
di dada sendiri
demi jutaan perit pedih
kesedihanku
yang tak pernah kau lihat, Bunda..
Bunda, demi angkasa yang memutari ku telah
kubaptiskan nazar ini
aku bukanlah dari pemberi maaf
ini jati diriku pengabdi al-Mudzhill
aku menunjuki wilayah kesesatan
dalam gelak tawa ngakak
igauan dunia binatang
para pelaku hidup bayang-bayang dungu ini
pelakon wayang mayat
para bangkai penyembah budi sendiri
kuhapus seluruh keakuan ini,
aku menjelma,
sang rajawali,
sang merak,
sang serigala,
sang harimau,
sang singa dan
segala macam jelmaan para dewa,
raja buana,
penguasa lautan anggur..
hunjam lagi khanjar ini seribu kali di dadaku
demi ayahku
lihatlah! aku terbang
aku bebas merdeka
dalam kesaksian ku
Tuhan satu!
dan aku beroleh cinta,
dari kerling mata ayu di balik kerudung.
dan temanku bilang, "Kau gila!"
Subscribe to:
Posts (Atom)